Friday, 9 January 2015

Sebuah Catatan Tentang Refleksi 2014 dan Resolusi 2015

Selamat Tahun Baru 2015, kiranya tahun yang baru, lebih membawa banyak kebahagiaan kepada kita semua.

2014 yang baru  lewat, merupakan tahun yang luar biasa untukku, sekaligus juga tahun prihatin di bagian akhirnya. Di awal tahunnya, aku sampaikan tekad di hadapan rekan-rekan jemaat pada ibadah awal tahun, bahwa aku mau belajar untuk hidup seturut kehendak Tuhan, walaupun aku juga membuat beberapa perencanaan secara garis besar. Kenapa hanya perencanaan garis besar?  

Di tahun-tahun sebelumnya, setiap perencanaan sampai detil yang kubuat, lebih banyak berantakannya daripada kejadiannya. Malah lebih sering yang terjadi adalah hal-hal yang justru di luar perencanaanku. Membuat aku berpikir, buat perencanaan secara garis besar saja, dan biarkan berikutnya dalam perjalanan pelaksanaannya, diserahkan dalam doa, meminta pimpinan hikmat dari Tuhan yang kupercayai. Sepanjang 2014 lalu rupanya cara ini lumayan berhasil.

Banyak hak-hal menyenangkan dan membahagiakan terjadi justru karena aku tak rencanakan dulu sebelumnya. Ada beberapa kejadian menyenangkan yang datang secara tiba-tiba. Aku memang sudah terlatih untuk menghadapi hal-hal yang tak terduga, tak terencana, dan ketika yang terjadi adalah hal-hal menyenangkan, tentu hasilnya adalah aku merasa lebih bahagia.  Namun ketika yang terjadi adalah hal yang mengexewakan, akupun tak perlu marah berlebihan. Aku lebih bahagia di 2014 daripada ketika di 2013. Lebih bahagia ini tak selalu karena kelimpahan materi lebih banyak, tetapi justru ketika aku bisa lebih banyak berbuat menolong dan berbagi dengan yang lain. 

Mauku, sih, ketika menempuh apapun yang sudah kurencanakan, ibarat perjalanan dimulai dari titik 1 ke titik 2, perjalanan berlangsung mulus tanpa perlu ada ATHG, alias Ancaman, Tantangan, Hambatan dan Gangguan. Tinggal jalan langsung aja dari titik 1 ke titik 2, lancar jaya sampai beres. Selanjutnya lanjut dari titik 2 ke titik 3 dan berlanjut seterusnya. Mengharapkan perjalanan yang mangkus dan sangkil (efektif dan efisien), sehingga hemat energi dan biaya. Tentunya kelancaran dalam perjalanan hidup, membuat aku akan lebih nyenyak tidur.

Tapi, apa yang terjadi? Ketika menjalani perjalanan hidup dari titik 1 ke titik 2 saja, kadang kala ternyata aku terpaksa dan dipaksa (!) harus pakai belok-belok dulu. Terkadang harus mundur dulu 10 langkah kemudian maju lagi tapi cuma bisa selangkah, kemudian harus belok lagi, memutar untuk kembali ke tengah, mundur lagi, belok lagi, maju sedikit, melambung jauh dulu.  Ada lagi harus menanjak berat dengan terengah-engah hingga serasa nyaris kehabisan napas, atau bahkan menurun amat curam sampai jatuh tersungkur, terjerembab dan terluka, untuk kemudian bangkit lagi. Setiap kali jatuh, setiap kali itu pula aku memacu diri untuk bangkit melanjutkan perjalanan, kadang dengan membawa bekas luka yang ada kalanya belum kering. Tidak ada satupun perjalananku yang mulus sangat, tanpa keterlibatan unsur dari ATHG tsb. Tidak ada!

Seringkali ATHG itu muncul justru dari lingkaran internalku.  Keluarga, kerabat, teman/sahabat, rekan/mitra kerja, dan masih banyak lagi, tak perlu, lah hitung yang dari lingkaran eksternal. Ini semakin membuatku merasa terbeban benar menjalani kehidupan yang terasa berat, sampai pernah beberapa kali aku gunakan hakku untuk mengeluh pada Tuhan,

"Ya, Tuhan, kenapa harus aku?" dan seringkali jawaban Tuhan hanya keheningan seakan tanpa kepastian. Atau di lain waktu, Tuhan berkenan menanggapi pertanyaanku itu, justru dengan balik bertanya,

"Mengapa bukan kamu, Nak?"

Lha, aku bertanya, koq, malah jadi disuruh mikir? Akhirnya aku hanya bisa membawa pertanyaan Tuhan tsb ke dalam banyak permenungan dan doa-doa kepasrahan.

Benarlah bahwa jalan Tuhan bukan jalannya manusia. Rancangan Tuhan bahkan seringkali luar biasa, di luar dugaan! Hal-hal dalam Tuhan, seringkali di luar batas kemampuan manusia bernalar, bagi yang percaya. Benarlah ungkapan yang sering terlontar ini "manusia boleh berusaha, namun Tuhan juga yang menentukan". Apapun yang terjadi dalam hidupku itu, seringkali di luar yang aku sempat pikirkan. Bahkan Tuhan berkali-kali membuat kesulitan, kesedihan, ketidaksenangan, kekecewaan yang terjadi padaku,  justru sebenarnya untuk melindungiku dari mara bahaya yang tidak aku lihat pada saat itu.

Ams 19:21  Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.

Hitung Berkat, Mengurangi Keluhan

Tentu, aku tidak bisa untuk tidak mengeluh sama sekali, tetapi ada strategi  yang kuterapkan untuk semakin mengurangi keluhan yang tidak perlu. Hitunglah berkat.

Kulihat lagi ke 2014, ternyata jauh lebih banyak berkat yang kudapatkan daripada hal-hal yang bisa kukeluhkan dengan tak perlu. Kesehatan yang lebih baik daripada sewaktu di 2013, walau di 2014 aku berkali-kali sakit, tetapi intensitasnya tak sebanyak ketika aku sakit di 2013. Kalaupun sakit, cukup berobat ke klinik langganan berbiaya murah meriah dengan obat generik, aku sudah bisa sembuh. Apalagi sejak aku menjadi peserta BPJS, berobat bisa gratis, selama masih dalam batas  pertanggungannya. Pun begitu, aku masih tak perlu sampai di rawat inap di rumah sakit. Cukup sudah, 2 kali dalam hidupku, aku dirawat inap, walau biayanya gratis sekalipun, aku tak mau lagi, kalau bisa.

Perjumpaan dengan banyak orang-orang baru, komunitas baru, membuatku makin bersemangat. Menambah banyak wawasan ketika berjumpa dengan orang-orang baru yang berkualitas yiihaaaa. Walau juga harus kuakui, di dalam perjumpaan dengan banyak orang baru tsb, ada saja, sih, yakni oknum (karena tidak semuanya) orang-orang yang, maaf saja, aku sampaikan secara jujur, kualitasnya yaiksss banget, membuatku merasa tidak perlu meneruskan relasi apapun dengan orang-orang kualitas yaikss tsb. Namun aku mendapat pembelajaran baru, hikmat baru, sehingga lebih sadar bahwa setiap orang adalah inndividu yang unik, tak ada yang sama satu dengan yang lain.

Kebahagiaan ketika mengetahui dengan jelas dan sahih, seseorang yang menjadi orang penting,  menduduki sebuah posisi yang mulia dalam pelayanan kepada umat dan kemanusiaan, ternyata masih kerabat keluarga  jauhku, bahkan justru relasi kami sekarang jadi akrab di dalam kasih Tuhan, mengingat sebelumnya kami tak saling kenal dan tak pula dikenalkan oleh seseorang yang sesungguhnya adalah sahabat kami.  Tuhanlah dengan caraNya yang ajaib,  akhirnya menyambungkan relasi kami hingga kami jadi akrab. Pertalian darah jauh lebih kuat daripada persahabatan, hingga melakukan caranya sendiri mempertemukan para saudara jauh yang masih berkerabat.

Kesempatan menikmati keindahan berbagai kota orang lain di lain provinsi,  beberapa kali mendukung teman-teman dan para rekan. Kesempatan menikmati beberapa petualangan baru, belajar hal-hal baru, dapatkan berbagai pengalaman baru, membuka wawasan baru. Masih banyak lagi. Hal-hal menyenangkan ini membuatku merasa bahagia lebih banyak daripada setahun sebelumnya. Rasa bahagia membuatku lebih jernih, dan lebih bisa bersikap realistis menghadapi berbagai persoalan, sehingga tidak perlu kelewat emosional selama mencari penyelesaiannya dan tentu, lebih santai juga menyikapi beratnya hidup, meski bukan berarti aku lalai untuk waspada.

Tetap saja ada hal yang tidak bisa sepenuhnya kesampaian untuk kulakukan. Menulis secara pribadi yang lebih banyak. Menulis merupakan keharusan untukku agar ide yang ada dalam benakku tidak hilang, menguap begitu saja jika tidak segera dibuat tulisan. Benar, banyak ide dan pemikiran, akhirnya hilang begitu saja akibat kealpaanku untuk segera menulis.  Mengutip pernyataan seorang penting di tahun lalu "waktu untuk duduk buat menulis itu, belum ada" karena banyak faktor terjadi, apalagi menjelang pentutupan 2014, kejadian yang menimpa Papaku, yang harus dirawat di rumah sakit,  membuat aku harus merevisi ulang baik-baik, keinginanku untuk menulis tsb. Entah kapan pada akhirnya aku bisa benar-benar duduk untuk menuliskan isi benakku. Aku tak hendak memaksakan keberuntunganku. Belum lagi, keinginan untuk mulai membuat customized things yang entah kapan bisa terlaksana.

Benar, aku cukup kehilangan cukup banyak di 2014 lalu, tetapi aku pun mendapatkan jauh lebih banyak daripada kehilangan yang kualami itu. Berkat dari Tuhan, sungguh luar biasa dan untuk semua yang telah kulewati sepanjang 2014, hal yang baik maupun hal yang tidak menyenangkan, semua itu membentuk aku yang saat ini, lebih bahagia. Inilah satu dari sekian alasan untukku mengucapkan :

Terima kasih TUHAN, untuk segalanya. 

Setiap hal baik bahkan yang buruk sekalipun, terjadi untuk menempa kepribadianku, agar aku pantas untuk  "naik tingkat dengan nilai sangat memuaskan" selama menempuh 'pendidikan kehidupan' di "Universitas Kehidupan".
Yer 29:11  Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Resolusi 2015

Bercermin dari pengalaman lima tahun terakhir, ketika resolusi yang direncanakan lebih banyak gatotnya (gagal total) pada akhirnya aku lebih suka membuat garis besar resolusi saja untuk kemudian bersiap menghadapi misteri, apa yang akan mampir di dalam hidupku di tahun yang baru ini. Menghindari kekecewaan berat? Iya, itu satu dari sekian alasannya. Jika bisa mengantisipasi, ya, baiknya hindarkalah hati dari rasa kecewa.

Terus melatih diri menghadapi apapun yang tak terduga, merupakan resolusi yang akan terus kulanjutkan setiap tahun berlanjut dengan yang baru. Optimis daripada pesimis. Ketika mendapatkan hal-hal yang menyenangkan, tak perlu bereaksi sukacita kelewatan. Ketika mendapati hanya kesedihan, dukacita, kekecewaan, tak perlu sampai emosional berlebihan. Sekiranya bisa, hal-hal kebaikan, kesenangan, kebahagiaan, kegembiraan, pokoknya hal-hal yang baik, aku ingin gores pada batu, sehingga bisa terbaca selamanya. Sedangkan hal-hal negatif, kekecewaan, kesedihan, kemarahan, kutuliskan saja pada pasir yang akan lalu bersama angin seiring angin bertiup, akan menghapuskan jejaknya.

Secara garis besar resolusi di 2015 : menjalani pola hidup lebih sehat lagi, berkaca dari kejadian yang menimpa kesehatan Papaku. Kiranya ada belas kasihan Tuhan untuk Papa.

Bepergian lebih banyak dan lebih jauh. Belajar lebih banyak, bertemu orang baru lebih banyak lagi. Melaksanakan hal-hal yang tak sempat dilakukan di 2014, salah satunya membuat customized things itu. Kiranya aku lebih berbahagia lagi.

Apa resolusi Anda tahun ini?

Salam tahun baru,

Linda Cheang

Bandung, 5 Januari 2015







1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete