Sunday, 23 April 2017

Diskusi Buku : Klenteng Gede Xie Tian Gong & Tiga Luitenant Tionghoa di Bandung - di Museum KAA

Judul : Klenteng Xie Tian Gong 協天宮 (Hiap Thian Kiong, VIhara Satya Budhi) * Tiga Luitenant Tionghoa di Bandung

Penulis : Sugiri Kustedja

Tahun Terbit : 2017

Penerbit : Bina Manggala Widya

Tebal : xvi + 300 halaman

ISBN : 975-602-18659-7-2



Diskusi Buku, Minggu, 19 Maret 2017

Memenuhi undangan dari teman-teman di Komunitas Jakatarub, plus ada teman di sana yang menjadi pembicara penanggap pada acara tsb, maka pada suatu Minggu yang cukup panas, bergegas saya ke Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) berharap tidak terlambat ke acaranya. Selain itu , saya datang juga karena ada pesanan dari teman di komunitas lainnya untuk membelikan dulu bukunya.

Kegiatan ini terlaksana karena kerja sama apik antara Komunitas Jakatarub dengan Centre for Chinese Diasporas Study (CCDS) Universitas Kristen Maranatha (UKM) Bandung dan tentunya MKAA yang memberikan tempatnya  untuk menjadi lokasi acara.



Tiba di pintu masuk MKAA, sudah ada meja untuk menjual buku tsb. Saya  beli bukunya dan karena saya membeli  lebih dari satu buku, terkesan sepertinya aku memborong bukunya, ditambah lagi, saya dimintai tolong lagi oleh teman lain dari komunitas yang lain lagi, yang kujumpai di dalam Ruang Pamer MKAA. Ternyata si teman itu tidak mengetahui jika ada penjualan buku. Ya, sudah, saya akhirnya macam benar-benar borong buku nyatanya!


Ternyata, acara diskusi bukunya molor dan karena saya belum tahu sampai kapan, maka saya gunakan kesempatan itu untuk "menodong" si penulis bukunya untuk memberikan otograf atas semua buku yang saya bawa. Tentu sebelumnya saya tuliskan nama-nama pada secarik kertas, agar si penulis buku tidak salah menuliskannya saat membubuhkan tanda tangannya. Penulis bukunya adalah Pak Sugiri yang menjadi narasumber ketika Komunitas Jakatarub mengadakan tur malam Tahun Baru Imlek beberapa waktu lalu.

Acara dimulai setelah terlambat sekian menit. Sedikit terganggu dengan si pembawa acaranya yang ternyata sangat tidak siap membuka acara, pada akhirnya si penulis bukulah yang benar-benar menyelamatkan acaranya.






Bingah, sebagai moderator acara dan Bapak Anton Sutandio dari UKM sedikit memberikan pemaparan mengenai kesannya setelah selesai membaca buku. Kesan mereka hampir sama, pada awalnya skeptis untuk membaca buku ini karena mengira akan menemukan istilah-istilah arsitek yang membingungkan dalam penulisannya. Ternyata mereka salah besar. 


Pak Sugiri Kustedja si penulis bukunya memang benar adalah seorang arsitek. Bahkan Beliau sudah mendapatkan gelar doktor untuk Arsitektur dari satu universitas swasta ternama di Kota Bandung. Namun ketika Bingah dan Pak Anton membaca buku ini, justru yang ditemukan adalah gaya penulisan yang bahkan memudahkan orang paling awam sekalipun untuk memahami. Selain itu ada penanggap pembicaranya Sonny Hermawan dari Jakatarub yang sedikit memaparkan mengenai kesannya sebagai keturunan  Tionghoa yang amat awam keterhubungannya dengan kelenteng yang juga disebut sebagai Vihara Satya Budhi tsb.

Pak Sugiri menjelaskan pada saat membuka paparannya, bahwa tujuan dibuatnya buku ini adalah sebagai buku panduan, karena sangat banyak masyuarakat yang datang ke Kelenteng Xie Tian Gong ini termasuk warga keturunan Tionghoa di Kota Bandung yang tidak banyak mengetahui sejarah dan tujuan kelenteng tsb didirikan, apalagi berkaitan dengan sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa sejak masa sebelum penjajahan Belanda. Apalagi di kelenteng tsb selain terdapat patung tuan rumah yaitu Guang Gong (Jendral Kwan Kong pada kisah Sam Kok alias Roman Tiga Negara), juga masih terdapat banyak simbol-simbol baik berupa ukiran, pahatan, sampai lukisan di dinding kelenteng. Termasuk pernah ada lukisan dari komik Sie Djin Kwie di dinding atas kelenteng sebelum akhirnya dihapus karena kabarnya keberadaan lukisan komik tsb membuat para pengurus kelenteng menjadi ribut selalu.


Selanjutnya berlangsung sesi diskusi dan tanya-jawab yang terpaksa harus dibatasi karena waktu yang diberikan untuk mengguakan ruangan juga menjelang jam tutupnya MKAA. Ada 10 peserta yang berpartisipasi, tak semuanya bertanya. Ada juga seorang ibu yang memberikan masukan kepada penulis mengenai kenangannya tentang Kelenteng Xie Tian Gong tsb. Di penutupan sesi, semua 10 peserta yang berpartisipasi tsb mendapatkan bingkisan kantung berisi memo dan mug dari sponsor acara.

Ada bagian yang menarik sebelum acara benar-benar berakhir. Ada Pak Sukandi minta izin untuk mmeberikan sedikit kata. Ternyata Beliau ini adalah keturunan kelima dari letnan Tionghoa Bandung kedua, Tan Haij Long. Saat penyampaian, Pak Sukandi tak hanya menyatakan terima kasihnya kepada penulis dan pihak CCDS atas dokumentasi tentang leluhurnya yang ikut disertakan di buku tentang kelenteng dalam bentuk lampiran, sehingga Beliau dan keluarganya akhirnya mendapatkan kisah sejarah lebih lengkap mengenai sang leluhur, juga menyatakan rasa malunya mengingat di dalam buku tsb si penulis buku juga menampilkan foto makam leluhurnya tsb dalam kondisi kurang terawat di Taman Pemakaman Khusus Cikadut, yang terkenal untuk memakamkan warga Bandung keturunan Tionghoa. Beliau berkata di jadapan semua peserta, akan segera mengurus makam leluhurnya tsb karena makam sang leluhur bisa dikategorikan sebagai bagian dari pelestarian budaya Kota Bandung


 Pak Sukandi, Keturunan ke-5 dari Letnan Tionghoa kota Bandung kedua 


Sebelum pulang, saya bersama seorang teman menyempatkan diri bergambar bersama penulis bukunya,  Pak Sukandi dan bersama Ibu Xiao Chao, seorang wartawati dari harian Guo Ji Ri Bao (國際日報) yang ternyata adalah teman Papa saya. Tentunya  tidak lupa, sesi foto bersama seluruh peserta yang masih ada di ruangan.








Resensi Bukunya menyusul.


Bandung, 23 April 2017

Friday, 24 February 2017

Misa Hari Perkawinan Sedunia

Gereja St. Laurentius Sukajadi, Minggu, 19 Februari 2017 Pk 12.30

Aku tiba dengan terlambat gara-gara arus lalu lintas macet plus angkotnya sempat-sempatnya ngetem.

Ketika tiba, prosesi perarakan masuk sudah selesai dan imam selebran yang saat itu adalah Uskup Bandung, sudah menggoyangkan wiruk untuk mendupai altar. Aku juga gagal dapat tempat duduk di dalam gedung gerejanya karena terlambat tiba beberapa menit pun itu.


Akhirnya,  aku cari temat duduk di luar gedung dan bodohnya aku, kenapa nggak pilih kursi sedikit ke tengah saja agar bisa leluasa memandang ke dalam gedung dan bukannya hanya melihat TV.😅

Yah, segitupun masih bisa melihat ke arah ambo ketika Si Bapak Uskup membawakan homilinya. Mana tahu  Beliau yang mulia, menyadari juga kehadiranku diam-diam ini. 😇



saat homili.







Dan selesai ibadah, tentu saja Si Bapak Uskupnya dikerubungi umat untuk bergambar bersama  😄


Aku paling suka foto yang ini. Sumringah! 



Sumber foto :

- Koleksi Pribadi
- Buletin Summa

Tuesday, 14 February 2017

Anjangsana Ke Buka Rumah Uskup yang Berulangtahun

Selasa, 14 Februari 2017 kemarin, uskupnya Keuskupan Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, memperingati hari lahirnya di usia yang ke-49 tahun. Menurut informasi dari sumber yang memang amat bisa dipercaya, pada hari kelahirannya Uskup Bandung dipastikan mengadakan acara Buka Rumah, alias open house di kediamannya, rumah dinas Wisma Keuskupan Bandung.

Akupun mendapat konfirmasi tegas, acara Buka Rumah ini terbuka bagi siapa saja warga yang mau datang untuk memberi ucapan  selamat ulang tahun pada Bapa Uskup, sekalian silaturahmi. Maka setelah aku tanya lagi untuk konfirmasi, aku koordinasi dengan beberapa teman di komunitas Jakatarub, Komunitas Sasadu Netizen dan komunitas lainnya yang bverkaitan dengan lintas agama, untuk ikut datang dengan tujuan kenalan dan silaturahmi.

Selamat ulang tahun kepada Gembala Keuskupan Bandung, 'Paman' Mgr. Antonius S. Bunjamin. Tuhan memberkati pelayanan Anda senantiasa.

Inilah dokumentasinya :




Akhirnya aku bisa membuat Mama ketemu Si 'Paman'. 
Foto ini dari kamera HPku


 Seperti inilah penampakan kue ultahnya Monsinyur tahun ini

Kuria Keuskupan Bandung. Ki-Ka : Sekretaris Keuskupan, Vikaris Jendral (wakil uskup), Uskup Bandung dan Ekonom Keuskupan.
Si 'Paman' uskup yang berulang tahun, sumringahnya lebar


Foto-foto ini pinjam kameranya Pak Herman

 Bersama teman-teman dari GKI Kebonjati


 Temanku  dan maminya. Si mami senang sekali bisa bertemu langsung dengan Uskup 


 Seorang sesepuh Bandung, Ibu Teko

 Temanku yang lagi belajar Buddha Theravada, ikut datang menemui Monsi

 Beberapa teman dari Jakatarub, bergambar di ruang kerja Uskup 


ini sih, numpang wefie di rumah dinasnya uskup

 Wakil dari GKJ Bandung

 Ibu Ketuanya Komunitas Netizen bersama Uskup di depan rudinnya

Wakil dari Netizen, ini di ruang kerja


Bandung, 15 Februari 2017

Linda Cheang



Sumber foto :
- Koleksi pribadi
- Suherman Tjandra
- Devi Muthia
- Pdt. Firdaus T. Kurniawan
- Eko Dean Wchs
- Majalah Komunikasi


Tuesday, 7 February 2017

Buku Stranger At Home : Gegar Budaya Ketika Pulang ke Tanah Air





















Penulis : Louisa Veronica dan Tessa Ayuningtyas Sugito

Tebal  : xx +202 

Tahun terbit : 2016

Penerbit : Fire Publisher 

Harga   : Rp90.000/- (2017)



Kedua penulis buku ini adalah warga Baltyra, maka saya khusus menuliskan ini juga untuk Baltyra. Tulisan ini isinya adalah kesan yang saya dapatkan dari hasil menikmati buku ini. Semoga berkenan.


Bagi para warga Indonesia yang pernah tinggal  sekian waktu lamanya di luar wilayah Indonesia lalu memutuskan kembali lagi ke Tanah Air, tentunya mengalami perasaan terasing, sampai berbenturan dengan kebiasaan yang berbeda sama sekali dengan kebiasaan lingkungan di luar Indonesia. Keadaan ini disebut sebagai culture shock alias gegar budaya.


Gegar budaya itulah juga dialami oleh Nonik dan Tessa (alias Sasayu), dua saudari bersepupuan ini, yang dituangkan ke dalam buku yang mereka tulis bersama. Melihat tulisan "gegar Budaya di Kampung Halaman" di tembok fesbuknya Nonik, saya bergegas membelinya, selain karena sayapun pernah mengalami juga hal gegar budaya ini setelah sekian tahun tinggal di luar Indonesia (walau secara bolak-balik, sih), alasan tepatnya adalah harga bukunya yang sengaja dibuat miring selama periode promosi  bagi 50 orang pertama. Jurus cari yang lebih murah saja dan mumpung isi dompet saya masih cukup untuk beli buku  :D


Setelah mengalami  sedikit kendala dalam pengiriman karena kurir yang kurang sigap, akhirnya buku ini tiba di tangan saya dan saya atur waktu untuk membaca secara bertahap, sebab harus bergiliran dengan baca buku-buku yang lainnya. Ternyata dalam buku ini pun ada Kata Pengantar yang dituliskan oleh Pendiri Baltyra ini, Suhu Joseph Chen, plus seorang penulis senior Baltyra, Pak Handoko Widagdo di bagian Kata Mereka. Warga Baltyra baiknya perlu punya buku ini. :D 

Sebenarnya waktu membaca buku ini memang tidak perlu lama-lama karena gaya penulisannya yang ringan dan enak, tidak membuat dahi berkerut, justru di beberapa bagian membuat saya ngakak. Sekiranya jika tidak harus diselingi kewajiban baca buku-buku lain, saya yakin buku ini bisa saya selesaikan bacanya dalam hitungan jam saja, bukan beberapa hari. 


Menarik ketika saya mulai membaca secara sekilas dulu, saya sudah bisa mengikuti alur kisah Nonik dan Tessa ketika bersiap menjalani kuliah di luar negeri. Nonik yang melanjutkan kuliah S-2 di Swiss dan Tessa yang setelah lulus SMA, lalu sepenuhnya kuliah di luar negeri untuk S-1 dan S-2. Kondisi yang benar-benar membuat saya jadi iri karena saya tak seberuntung mereka. Termasuk kehebohan mereka ketika pertama kalinya berangkat ke luar negeri lengkap dengan kisah super noraknya dan kerepotan orangtua yang mendorong si anak untuk ambil program bea siswanya.


Saya melanjutkan membaca secara serius dan menyelesaikannya, saya menemukan bahwa saya bisa menikmati cara mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama berada di Swiss untuk Nonik dan di Belanda serta Finlandia untuk Tessa.  Saya jadi benar-benar ngerti kenapa Tessa suka disebut sebagai si tukang bakar restoran, dan Nonik yang harus terengah-engah bersama anggota kelompok yang lebih suka berbicara dengan bahasa ibu negara mereka yang kebetulan sama-sama bahasa Portugis walau dari negara berbeda. Tessa yang bisa menikmati nikmatnya uap panas sauna lalu langsung bergulingan pada salju yang dingin, sampai Si Mboknya Tessa salah paham, mungkin karena kurang tahu seperti apa rasanya negeri di wilayah kutub itu. Ada lagi juga kisahnya Tessa dengan teman senegara dengan cerita terasinya si teman yang agak berbau mistis,  benar-benar bikin saya ngakak sambil geleng-geleng kepala, dan Nonik yang bertutur pengalamannya seru ketika bekerja di dua restoran yang dimiliki dua wanita Tionghoa berhubungan keluarga, lengkap dengan segala kendala bahasa karena kedua nyonya Tionghoa kurang fasih berbahasa Prancis, dan Nonik juga ada kendala berbahasa Mandarin.  Kisah Nonik ketar-ketir  tinggal dengan uang mepet di sisa waktu sebelum pulang ke Tanah Air, namun masih beruntung mendapatkan pekerjaan sebagai au pair. 

Terima kasih buat Nonik dan Tessa yang bersedia berbagi kisah hidup mereka. Di bagian penuturan ketika mereka mengalami gegar budaya di kampung halaman, saya yakin bisa lebih seru lagi jika mereka berdua mau membuka beberapa detil hal ikhwal penyebab mereka mengalami gegar budaya. Sebab sejujurnya menurut saya, sebgaian besar isi buku dengan judul yang ditampilkan agak kurang klop. Bagian gegar budayanya masih kurang banyak diceritakan.  Saya sebenarnya tertarik dengan cerita Tessa ketika pulang kembali ke Si Mboknya yang tipe Asian Tiger Mom, satu dari sekian penyebab gegar budaya yang dialami. Sudah pasti banyak kisah menarik yang bisa dipaparkan di buku ini, dan pasti bisa juga dipahami oleh sesama anak-anak produk para Tiger Mom (termasuk saya). Saya juga bahkan kepingin bisa mendengar ceritanya Nonik ketika mendapati tidak nyambungnya komunikasi dan cara berpikirnya Nonik dengan kerabat dan orang sekitar setelah Nonik baru pulang dari Swiss. Pasti akan banyak kisah-kisah ajaib jika saja boleh dibagikan detilnya walau tidak harus ekstra detil. 


Maaf, ya, Nonik, Tessa. Ini hanya sedikit pendapat saya, harapkan kalian tidak berkecil hati karenanya. Saya mengalami juga situasi hellish with Asian Tiger mom dan nggak nyambungnya pola komunikasi dengan keluarga/kerabat/orang-orang sekitar, sampai saat ini. Namun, saya sepakat dengan Nonik dan Tessa untuk  menerima dan berdamai dengan situasi seperti itu.

Terlepas dari ditemukannya beberapa bagian yang harus dikoreksi dan saya sudah memberitahu Nonik akan hal itu, buku ini baik sekali dijadikan referensi  bagi siapa saja, terutama bagi warga Indonesia yang baru mau akan tinggal di luar wilayah Indonesia dalam waktu yang cukup lama, dalam bilangan tahun. Pengalaman Nonik dan Tessa bisa menjadi panduan guna mempersiapkan diri lebih baik lagi dan untuk mengambil keputusan yang lebih bijak. Tidak lupa juga kedua saudari sepupuan ini juga menceritakan pentingnya bersandar pada hadirat Tuhan yang ikut andil dalam setiap peristiwa hidup, tentunya bagi Anda yang percaya akan Tuhan. Kisah-kisah ketika Nonik sempat marah kepada Tuhan,  tentang Tessa yang sempat kurang dekat dengan Tuhan, namun Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka, boleh menjadi kesaksian yang menguatkan bagi kita semua, yang percaya adanya campur tangan Tuhan dalam setiap sendi kehidupan kita.


Buat Nonik dan Tessa, sei bravissima! Kiranya kita bisa ketemuan lagi, ya.


Bandung, 8 Februari 2017



Salam,


Linda Cheang

Saturday, 28 January 2017

Tur Malam Tahun Baru Imlek 2017

Komunitas Jakatarub Bandung, bekerja sama dengan beberapa tempat ibadah di Jl. Kelenteng dan Jl. Cibadak, kembali menyelenggarakan tur malam Tahun Baru Imlek 2017 pada Jumat malam, 27 Januari 2017 lalu, sebagai upaya mengenalkan tradisi dan budaya Tionghoa di Indonesia dalam menghayati tahun baru, dari masing-masing sudut pandang tradisi dan teologi (Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme Tiongkok).

Tempat-tempat ibadah yang dikunjungi adalah :
1) Kelenteng Gede, (TITD) yaitu Vihara Satya Budi.
2) Vihara Dharma Ramsi (TITD)
3) Kong Miao, tempat ibadah Ajaran Konghucu

4) Vihara Sinar Mulia, tempat ibadah Ajaran Tao (Taoisme)
5) Vihara Tanda Bakti, Buddha Mahayana

Semua tempat ibadah tsb menyambut kami hangat kecuali Vihara Sinar Mulia yang baru akan ada pengurusnya datang untuk ibadah Pk. 23.00, maka tidak ada fotonya. DI lokasi ini peserta hanya sempat diberikan penjelasan sekilas oleh seorang pengurus Jakatarub, tentang ajaran Taoisme dan perbedaannya dengan Konghucu
Tempat yang benar-benar vihara yang benar-benar untuk agama Buddha dan ada biaranya yaitu Vihara Tanda Bakti.

Peserta datang dari berbagai kalangan lintas agama dan kepercayaan. Ada beberapa mahasiswa dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari jurusan Perbandingan Agama, ada rekan-rekan pendeta dan umat Kristen. Ada perwakilan dari pemeluk Katolik yaitu Pst. Agustinus Sugiharto, OSC dari KomHAK Keuskupan Bandung, perwakilan umat dari Gereja St. Laurentius termasuk dari Majalah Komunikasi Keuskupan Bandung, juga beberapa rekan umat Hindu dan bahkan ada perwakilan dari Muslim Tionghoa, diwakili anggota dari PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia), tak lupa warga awam lainnya yang tertarik untuk belajar dari acara ini.
Antusias tinggi dari para peserta yang mungkin beberapa diantaranya baru pertama kali mengunjungi tempat ibadah Tri Dharma dan vihara, yang bernuansa kebudayaan Tionghoa, berkenaan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sebagai perayaan budaya.
Menunjukkan bahwa di Kota Bandung, keberagaman merupakan satu dari sekian sumber kegembiraan pada perayaan budaya. Kiranya dari tur ini, setelah belajar mengenal lebih dekat, bisa sikap toleransi dan kerukunan dari setiap umat beragama akan lebih kokoh lagi di antara warga Kota Bandung.
Senang melihat antusiasnya para peserta yang mungkin beberapa diantaranya baru pertama kali mengunjungi tempat ibadah Tri Dharma, yang bernuansa kebudayaan Tionghoa. Walaupun di akhir acara ada sedikit "kekacauan" lebih karena kurang koordinasi, padahal sekian jumlah peserta sudah dibagai menjadi 4 kelompok agar lebih tertib.
Kiranya tur malam Tahun Baru Imlek yang akan datang akan lebih baik lagi.

1) Kelenteng Gede - Vihara Satya Budhi (Xie Tian Gong)
Lokasi ini menjadi titik kumpul awal bagi seluruh peserta. Jumlah peserta lumayan banyak, di atas 60 orang sehingga untuk menjaga ketertiban, perlu koordinasi.

Pengurus Jakatarub membagi peserta menjadi 4 kelompok agar mudah koordinasinya juga karena alasan pintu masuk di sebuah kelenteng tidak akan memuat ke semua peserta untuk masuk bersama-sama.

 Lampion menyambut yang datang di gerbang Kelenteng Gede 

bagian depan Xie Tian Gong

Patung Jenderal Guan Gong, tuan rumah di kelenteng ini



Pak Sugiri sebagai relawan sejarah, sedang menjawab pertanyaan dari para peserta tur

Kalender gabungan Masehi dan Lunar, termasuk hitungan hari terbaiki, hari baik dan hari buruk.

Foto bersama sebelum  melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat ibadah lainnya

barisan lampion mengiringi para peserta

2) Vihara Dharma Ramsi
Di sini, para peserta masuk bergantian per kelompok. Para peserta pun dijamu dengan menu makanan vegetarian yaitu : bihun goreng, mie goreng, bubur kacang hijau dan ketan hitam serta roti selai kacang




barisan lilin di lokasi Vihara Dharma Ramsi



 Para peserta dijamu dengan makanan vegetarian di bagian belakang vihara.





3) Kong Miao

Para peserta diterima oleh pengurus Kong Miao dan diarahkan langsung ke aula di lantai atas bangunannya, yang ada altar pemujaan Konghucu, untuk mendengarkan penjelasan dan bertanya jawab tentang Ajaran Konghucu atau seputar hal ikhwal Tahun Baru Imlek dengan pengurus Kong Miao.



Perwakilan pengurus Jakatarub dan peserta tur berfoto bersama dengan pengurus Kong Miao dan wakil petugas aparat keamanan yang menjaga tempat ibadah




4) Vihara Tanda Bakti
Vihara ini adalah tempat ibadah yang benar-benar untuk beribadahnya para umat Buddha dari aliran Mahayana dan bangunan viharanya lengkap dengan biara tempat para bhiksu tinggal. Tidak digabung dengan ibadah Ajaran Konghucu dan Ajaran Tao.

Peserta tur terbagi-bagi antara yang mendengarkan penjelasan dari pengurus vihara, dengan yang memilih berkeliling melihat-lihat fasilitas vihara sekalian berswa foto.
Bagi peserta tur yang memerlukan energi tambahan sebelkum pulang, boleh ikut menikmati sajian bajigur, bandrek , ketan bakar sampai nasi soto ayam, dari para pedagang kaki lima yang sengaja disewa oleh pengurus vihara.

Lumayan, saya bisa puas meneguk bajigur hangat sebelum pulang.





itu bukan obat nyamuk bakar, tapi barisan dupa melingkar 






 Penjelasan dari seorang pengurus vihara didampingi seorang pengurus Jakatarub


lonceng dibunyikan menjelang tengah malam,  tanda waktu ibadah Tahun Baru Imlek segera dimulai

Sebelum meninggalkan Jalan Kelenteng, saya sempat mengambil foto kegiatan pasar malam yang diadakan untuk memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek. Ada penjual es serut yang menawarkan hidangan es serut yang tinggi dan banyak, dilumuri sirup dan susu kental coklat. Kelihatannya enak, tapi entahlah, saya hanya memotret, tidak ingin membelinya :D




Sampai jumpa di kegiatan lintas agama lainnya.


SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2568. 


Bandung, 29 Januari 2017
Linda Cheang

Sumber foto :
- Koleksi pribadi
- Budi Yasri
- Majalah Komunikasi Keuskupan Bandung
- Jakatarub


Keterangan :
Jakatarub : Jaringan Kerjasama Antar Umat Beragama, merupakan sebuah komunitas yang pengurus dan  para anggotanya adalah warga dari lintas agama/kepercayaan.

TITD : Tempat Ibadah Tri Dharma, yaitu tempat ibadah untuk kegiatan ibadah bagi Agama Buddha, Ajaran Konghucu dan Ajaran Tao alias Taoisme.