Thursday, 5 January 2017

Menulis Lagi Itu Kayak.....

Sekian waktu lamanya aku nggak nulis-nulis. Maksudnya, menulis panjang entah di blog pribadi, entah di Notes fesbukku sendiri, entah juga di buku tulis yg kujadikan jurnal pribadi. Malah di awal 2017 ini ketika aku buka kembali jurnal pribadiku, terakhir kali kutulis pada tanggal belasan Januari 2016. Hah?? Ke mana saja selama nyaris setahun, aku itu? Hehehe...

Mau mulai menulis lagi, kayak menanggung beban berkilo-kilogram di punggung, karena rasa malasnya itu, lho! Hadeuh! Melawan rasa malasnya itu yang berat, sih! Macam mendorong mobil mogok tapi majunya cuma sedikit-sedikit. Ketika aku lakukan kilas balik lagi di 2016, ternyata semua berlalu begitu saja hanya terekam beberapa dalam gambar yang dijepret, tapi tidak ditulis dan sejujurnya, aku agak menyesal juga, walau nggak nyesel-nyesel amat, sih. Aku bukan tipe orang yang menyesal berlama-lama lalu sedih terus gegerungan teu puguh. Nggak, lah!


Kalo saja aku rekam semua peristiwa dari yang heboh sampai yang remeh-temeh ke dalam jurnal pribadi, entah ditulis tangan, entah diketik dalam blog, semua kenangan berharga itu untuk dijadikan pelajaran akan terekam dengan baik. Padahal sepanjang 2016 itu, jika dingat lagi, banyak hal-hal baik, indah dan menyenangkan terjadi yang menyeimbangkan hal-hal buruk, jelek dan menyedihkan. Jika mau dihitung satu-persatu, malah lebih banyak hal-hal positifnya. Lebih banyak berkatnya daripada tahun sebelumnya dan semakin banyak penyertaan Tuhan dalam hidupku. Sayang aja, akunya terlalu malas untuk menyimpannya dalam tulisan yang bisa dijadikan dokumentasi. Hehehehe.

Aku nggak perlu melemparkan kesalahan kepada si setan atas kemalasanku, karena memang salahku sendiri, koq. Tapi memang aku yang bodoh, mau aja terkena rayuan si setan untuk malas, untuk tunduk pada ngantuk karena kesibukan menumpuk, dlsb, padahal aku sudah diingatkan untuk berjaga-jaga, waspada mengelola waktu dengan baik. Dengan alasan, sudah punya banyak foto, akhirnya aku malas menulis, padahal foto-foto pun akan lebih bercerita bila dibubuhi tulisan. Menulis saja malas, membaca pun akhirnya jadi serasa terpaksa.

Aku memaksakan diri untuk terus setia membaca Kitab Suci dengan program bacaan setahun, tapi rasa malas dan tunduk pada ngantuk tsb yang membuat akhirnya 2016 lalu gagal 100% khatam tepat pada waktunya, heuheuheu. Banyak bolong-bolongnya dan akhirnya utang khatam bacanya aku lanjutkan di awal 2017, mengakibatkan aku harus ekstra tenaga 3x lipat untuk membacanya. Yaitu bacaan untuk 2 hari pada sisa daftar bacaan 2016 dan 1 hari bacaan harian 2017 pada waktu sebelum tidur. Konsekuensinya, aku jadi kekurangan jam tidur dan aku merasa makin mudah lelah di siang hari, hahahahaha. 

Aku juga membaca banyak buku-buku dari berbagai genre, tapi hanya sekian buku saja yang bisa kubaca sampai benar-benar tuntas.  Jumlahnya yang tuntas kubaca bahkan di bawah jumlah jari sebelah tanganku, hihihi. Tuntas baca buku bukan berarti aku langsung paham inti dari isi bacaan bukunya itu. Nah, lho! Akhirnya, macam serasa aku dibikin kaget dengan kejutan sengatan listrik! Stroom! Blitzz! Dhuarrr!

Maka dari itu di 2017 ini aku pikir daripada bikin resolusi yang menggelegar tapi nggak direalisasikan, lebih baik aku memulainya dengan hal-hal baik, termasuk menulis, walau kadang isi tulisannya mungkin hanya hal-hal remeh :D. Membaca buku apapun termasuk Kitab Suci sampai tuntas atau khatam dan tentunya : produktif menulis. Termasuk di dalamnya menulis tanggapan, menuliskan hasil review. Bersyukur bahwa aku masih dilibatkan dalam proyek bukunya si teman yang orang Belanda, walau sekedar menjadi juru perbaikan (proof reader). Masih juga aku dilibatkan untuk memoderasi kelas-kelas diskusi daring dan di tahun yang baru ini, aku mau lebih fokus melakukannya.



Bandung, 6 Januari 2017

*gambar-gambar yang dipakai, diambil dari Google images